Senin, 21 Januari 2019

Salam Single Luar Biasa

*Single, Why Not?*

Oleh: Nduk Ni'*

Undangan demi undangan berdatangan. Satu persatu teman telah bersatu dengan sang tambatan hati. Berpadu dalam akad, membaur dalam cinta kasih nan setia. Sempat terlintas sekejap dalam benak, "Tuhan, kapan giliranku?"

Aku tersenyum kemudian. Kenapa menanyakan hal itu? Pernikahan bukanlah sebuah antrean, bukan pula perlombaan, pun bukan berpacu dalam waktu. Pernikahan adalah sebuah komitmen besar di mana Allah menjadi saksinya. Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa, dua raga, dua hati, dan dua insan yang berbeda secara kepribadian maupun pemikirannya dengan kemauan mencari titik temu dalam setiap perbedaan, dan tekad untuk saling menerima, saling memberi, saling mengisi satu sama lain meski tak selalu seiya sekata.

Indah. Sungguh mulia Islam membingkai cinta dalam pernikahan. Sungguh indah Islam mengaturnya. Islam memuliakan dan menyucikan cinta kasih sesama insan melalui sebuah akad suci yang mengguncangkan arasy.
***

Pertanyaan senada seringkali terlontar dari berbagai sisi. Iya. "Kapan" adalah kata tanya yang cukup banyak digunakan dalam hidup ini. Tidak hanya kapan menikah, tentunya. Karena hidup ini berarti menjalani waktu. Dan di setiap waktu tertentu, ada sesuatu yang harus kita lalui. Wajar bila pertanyaan "kapan" itu terlontar.

Saat masih sekolah, misalnya. "Kapan ujian? Kapan lulus? Kapan wisuda?" Begitu selesai menempuh jenjang pendidikan, ditanya "Kapan mulai kerja? Kapan menikah? Kapan punya momongan?" dan sebagainya.

Pertanyaan itu seolah menandakan bahwa kita tengah berada di sebuah tangga, dan masih banyak anak tangga yang harus kita lalui untuk bisa sampai ke atas. Kita harus terus naik meski kadang terasa berat, lelah, dan menjenuhkan.

Lalu bagaimana menghadapi pertanyaan semacam itu? Tenang saja. Hidup kita, kita yang menjalani. Rizki yang ditakdirkan untuk kita, tetap menjadi milik kita. Jodoh kita, tidak akan tertukar. Dan ajal kita, tidak akan maju atau mundur karena sebuah pertanyaan. Artinya apa? *Setiap orang telah Allah berikan waktu dan kebutuhannya masing-masing di saat yang tepat menurut pandangan Allah, bukan pandangan manusia.*

Tak usah risau dengan berbagai pertanyaan. Toh rasa penasaran itu sudah menjadi bagian dari sifat manusia. Selalu ingin tahu. Itulah mengapa ada ramalan cuaca, ada prediksi UN, ada kisi-kisi ujian, karena manusia selalu ingin tahu. Hadapi saja pertanyaan "kapan" itu dengan tenang. Jawab dengan jawaban yang pasti bila memang sudah memiliki jawaban, dan cukup tanggapi dengan ramah bila belum memiliki jawaban yang pasti.

Single sendiri seangkatan, apa nggak jadi bahan bully teman-teman? Kadang iya, kadang tidak. Saya ada di posisi itu. Dari alumni kelas PBA B pascasarjana 2017, saya satu-satunya yang masih single. Semua teman baik laki-laki maupun perempuan, sudah berpasangan dan beberapa dari mereka sudah dikaruniai buah hati.

Tidak risau? Tidak. Kembali ke konsep yang tadi, bahwa setiap orang Allah berikan waktunya masing-masing. Dan Allah Maha Adil. Adilnya Allah bukan berarti memberikan sesuatu yang sama pada hamba-Nya, tapi memberikan sesuatu sesuai potensi hamba-Nya. Allah memberikan saya masa single sekian tahun, mungkin karena bagi Allah ada beberapa misi yang hanya bisa saya jalani sebelum menjadi seorang istri. Allah memberikan masa single yang singkat pada teman-teman, mungkin karena bagi Allah, mereka mampu menjalankan misinya ketika berpasangan.

Single, why not?

Sahabatku yang masih single, jangan pernah merasa terpuruk, jangan pernah merasa sendiri. Kita punya waktu yang mungkin tidak orang lain miliki. Kita punya kesempatan yang mungkin tidak Allah berikan pada yang lain. Manfaatkan waktu dan kesempatan itu selagi kita belum "alih status", karena akan ada banyak hal yang mungkin tidak bisa kita lakukan setelah status kita berubah, sebab tugas baru yang akan berdatangan.

Single, maksimalkan potensi. Yuk jadi insan mulia yang dicintai Allah Ta'ala. Berhentilah mengeluh dan meratap, perbanyaklah rasa syukur dan bahagia. Tuhan kita Maha Pengasih dan Penyayang. Dia Maha Romantis. Mintalah yang terbaik, pasti Dia berikan.

Salam Single Luar Biasa ☺

*(Ni'matul Khoiriyyah)

Saleh Zaman Now

*Saleh Zaman Now*

Oleh: Ni'matul Khoiriyyah, S.Pd.I., M.Pd.

Kehidupan merupakan serangkaian ujian. Paketnya A-B, suka duka, dan tangis tawa. Jurus menghadapinya pun ada dua. Syukur di saat nikmat datang, bersabar saat duka melanda.

Ujian hidup merupakan wujud keadilan Tuhan pada semua insan. Allah Maha Adil. Setiap orang pasti Allah berikan ujian berupa suka dan duka. Tak peduli zaman old maupun zaman now, semua pernah bahagia, pernah juga menderita.

Kok porsinya tidak sama? Porsi memang tidak sama, tapi disesuaikan. Yang jelas, semua sama-sama diuji dengan dua paket; suka-duka. Uang saku anak TK tidak mungkin disamakan dengan uang saku mahasiswa. Tidak, tapi disesuaikan. Misalnya, anak TK seribu, SD dua ribu, SMP lima ribu, dan seterusnya.

Ujian yang Allah berikan pada manusia, bisa saja tidak sama. Mengapa? Tingkat keimanannya berbeda. Allah menguji hamba-Nya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Ujian untuk Nabi tentu levelnya lebih tinggi dari ujian para Wali, apalagi wali kelas. Tapi yakinlah, tidaklah Allah menguji seseorang melebihi batas kemampuannya.

 Lho, kok ada yang bunuh diri? Itu terjadi bukan karena tidak mampu menghadapi ujian Tuhan, tapi karena pikirannya terlanjur keruh, hatinya terlanjur mati, sehingga tak mampu melihat kebenaran dan bertindak dengan benar.

Mengapa hatinya bisa mati? Karena hatinya gersang, tandus, kurang siraman rohani. Ruhnya kering, tidak pernah diisi dengan ilmu-Nya, tidak diisi dengan keimanan pada-Nya, tidak bergaul dengan orang-orang saleh sebagai salah satu obat hatinya.

Inilah pentingnya memilih orang saleh sebagai teman. Baik, mungkin kita tidak berhak menilai kesalehan orang, tapi setidaknya kita masih bisa melihat dengan jelas mana perilaku baik, mana yang buruk. Mana yang benar, mana yang salah. Maka pilihlah teman yang perilakunya baik dan benar. Semakin banyak kita berteman dengan yang baik, semakin terselamatkan hati kita dari kegersangan yang mematikan.

Berteman dengan orang saleh, memperkecil kemungkinan kita untuk berbuat dosa. Bayangkan ketika setiap obrolan kita mengandung hikmah, saat bersama tidak mengghibah yang lain, dalam bercanda masih beretika, pasti hati akan tercerahkan, tidak gelap. Setiap ada masalah, solusi mudah didapati. Mengapa? Karena teman yang saleh.

Ah, mencari teman saleh di zaman now begitu susah. Oh ya? Begitukah? Mengapa kita tidak belajar menjadi orang yang saleh saja? Jangan-jangan, bukan orang salehnya yang langka, tapi kita yang kurang tepat bersikap sehingga aura kesalehan orang itu tidak kita rasakan.

Maka dari itu, marilah kita mencari teman yang saleh, dibarengi dengan proses menyalehkan diri. Kalau tidak ingin dighibah saat kita tiada, jangan kita mengghibah teman saat ia tiada. Jaga ucapan, jaga tangan, jaga hati. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang sederhana, dan mulai dari sekarang, karena seribu langkah dimulai dari satu langkah. Yuk, menjadi orang saleh zaman now!

Sabtu, 06 Oktober 2018

Profil Ni'matul Khoiriyyah, Penulis Mas Ustadz The Series

*Profil Penulis Novel*
*Mas Ustadz The Series: Sakinah Bersamamu*

Novel bersampul hijau sejuk dengan siluet sepasang kekasih halal ini ditulis oleh Ni'matul Khoiriyyah, putri KH. Muhammad Hasan dan Hj. Siti Sopiyah. Penulis berdomisili di Kamulan, Durenan, Trenggalek, Jawa Timur, lahir pada tanggal 27 Juli 1993, bertepatan dengan 7 Shafar 1414. Ni'mah menempuh pendidikan dasar di MIWB Hidayatut Thullab Kamulan (2005), pendidikan menengah di SMPN 1 Durenan (2008), MAN Kunir Wonodadi (MAN 3 Blitar) 2011, kemudian melanjutkan studi di IAIN Tulungagung dengan prodi Pendidikan Bahasa Arab (S1, 2015 dan  S2, 2017).

Penulis merupakan dosen baru di IAIN Kediri. Selain itu, penerjemah abstrak skripsi dan tesis ini juga melayani bimbel siswa SD/MI, dan privat Bahasa Arab di *An-Ni'mah Arabic Private Course.*

Kakak dari Muhammad Yusuf Saifulloh ini merupakan anggota grup kepenulisan Ode Literasi, binaan Suhardiyanto, dan Aku Bisa Menulis, yang didirikan oleh M Husnaini. Novel Mas Ustadz The Series ini merupakan buku solo ketiganya setelah Ketika Tasbihku Bertahmid (2014), dan Diary Ramadhan Ni'mah (2015).

Beberapa judul karyanya yang masuk dalam buku antologi; Senandung Cinta Karena Allah (Pelangi Inspirasi), Isabella 2013 (a Letter for My Prince), Ketika Cintaku Bertakbir (Cinta Bersemi di Pelaminan), Imam Sholeh Pilihan Ayah (Catatan Cinta untuk Ayah), Modus (Masa Lalu yang Membekas di Hati), Izinkan Aku Merengkuh Hatimu (Pantaskah Aku Mencintaimu), Tembok Besar Cinta (Dalam Tahajud Cintaku), Bidadari Surga (So, Please!), Senja Cinta Isabella (Yang Menanti Senja), Cinta itu ... (Ketika Hati Berpuisi), Diary Cinta sang Bidadari (Kitab Cinta), Imam Impianku (Kupinang Dia dengan Bismillah), Ramadhan Karim (Cahaya Ramadhan), Membaca Membuka Cakrawala, Menulis Menggerakkan Dunia (Geliat Literasi IAIN Tulungagung), Dear Imanku (Letter for Love), Jemari yang Menghanyutkan (Medsosku Sayang, Medsosku Malang), Mendidik Buah Hati dengan Cinta (Mendidik Anak di Era Digital), IJOW (Goresan Cinta untuk Bunda), Cinta Pertamaku (Goresan Cinta untuk Bunda), Surat Untuk Jodohku Tercinta (Ungkapan Hati), dan Ya Habibal Qalbi (Ikhtiar Cinta).

Berawal dari tugas menulis diary dan melanjutkan cerita bersambung saat belajar Bahasa Indonesia di SMP, Ni'mah mulai tertarik dengan dunia kepenulisan. Ia mulai unjuk diri saat mondok di Al Kamal dengan beberapa karyanya yang terpampang di Mading pesantren. Berbagai even pun diikutinya hingga lahirlah lebih dari 20 buku antologi dan 3 buku solo dalam 5 tahun terakhir.

Dunia cinta dengan nuansa religius seolah tidak pernah lepas dari tema tulisannya. Baginya, menulis berarti menebarkan cinta dan kebaikan. Menulis dapat mengurangi beban pikiran dan perasaan. Menulis dapat menambah teman dan memperluas persaudaraan, serta mempererat jalinan dan kedekatan jiwa dengan pembaca. Dan kebahagiaan seorang penulis adalah ketika ada pembaca yang terinspirasi oleh tulisannya, lalu bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Misalkan, setelah membaca Mas Ustadz The Series, sang suami menjadi lebih penyayang dan setia kepada istri, keduanya semakin sadar akan kewajiban masing-masing, paham apa yang harus dilakukan untuk saling  membahagiakan, saling dukung, saling mengerti, dsb.

Karena sebagaimana mengajar, menulis juga bisa menjadi ladang pahala dan amal jariyah, yaitu apabila pembaca mengamalkan apa yang disampaikan penulis dalam karyanya. Semoga karya sederhana ini bermanfaat dan membawa keberkahan bagi penulis dan para pembaca, sehingga kebahagiaan hakiki dunia akhirat mampu kita raih bersama.
Aamiin.



Mas Ustadz The Series

Profil Buku

Judul: Mas Ustadz The Series: Sakinah Bersamamu
Genre: Novel
Penulis: Ni'matul Khoiriyyah
Editor: Ni'matul Khoiriyyah
Penerbit: FAM Publishing, Kediri
Tahun Terbit: 2018
Desain Cover: Suhardiyanto
Layout: Fariz Hazim
Tebal: xiv+156 hlm


Daftar Isi

1 Tiga Langkah Menuju Akad Nikah: Sebuah Perenungan
2 Ana Fintidharik
3 Simfoni Ketupat Syawal
4 Melodi Secangkir Kopi
5 Kusumaning Ati
6 Lengkuas Cinta
7 Secangkir Cinta dalam Teh Jahe
8 Ketika Mawaddah Menjelma Rahmah
9 Dhomir Na
10 Labisa
11 Kaulah Pakaianku
12 Kepompong
13 Jarum Pentul
14 Sutera Kata
15 Bukan Cinta Amatir
16 Kinayah
17 Kopi Pahit
18 Bismillah Dulu, Sayang!
19 Ciput Biru
20 Qonita
21 Qothrun Nada
22 Penjaga Hati
23 Rendaman Cinta
24 Sudut Pandang Cinta
25 Insomnia
26 Anugerah Agung
27 Antara Salat dan Bahagia
28 Karena Kucing
29 Bingkisan
30 Bunga-Bunga Cinta
31 Hadiahnya Besok
32 Si Manis Berhidung Minimalis
33 Ridho Guru, Jalan Bahagia
34 Anugerah vs Fitnah
35 Kunci Bahagia
36 Pahala
37 Romantika Doa
38 Sambal Terung Rasa Cinta
39 Melodi Tengah Malam
40 Sekuntum Rindu untuk Mas Ustadz