Senin, 21 Januari 2019

Saleh Zaman Now

*Saleh Zaman Now*

Oleh: Ni'matul Khoiriyyah, S.Pd.I., M.Pd.

Kehidupan merupakan serangkaian ujian. Paketnya A-B, suka duka, dan tangis tawa. Jurus menghadapinya pun ada dua. Syukur di saat nikmat datang, bersabar saat duka melanda.

Ujian hidup merupakan wujud keadilan Tuhan pada semua insan. Allah Maha Adil. Setiap orang pasti Allah berikan ujian berupa suka dan duka. Tak peduli zaman old maupun zaman now, semua pernah bahagia, pernah juga menderita.

Kok porsinya tidak sama? Porsi memang tidak sama, tapi disesuaikan. Yang jelas, semua sama-sama diuji dengan dua paket; suka-duka. Uang saku anak TK tidak mungkin disamakan dengan uang saku mahasiswa. Tidak, tapi disesuaikan. Misalnya, anak TK seribu, SD dua ribu, SMP lima ribu, dan seterusnya.

Ujian yang Allah berikan pada manusia, bisa saja tidak sama. Mengapa? Tingkat keimanannya berbeda. Allah menguji hamba-Nya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Ujian untuk Nabi tentu levelnya lebih tinggi dari ujian para Wali, apalagi wali kelas. Tapi yakinlah, tidaklah Allah menguji seseorang melebihi batas kemampuannya.

 Lho, kok ada yang bunuh diri? Itu terjadi bukan karena tidak mampu menghadapi ujian Tuhan, tapi karena pikirannya terlanjur keruh, hatinya terlanjur mati, sehingga tak mampu melihat kebenaran dan bertindak dengan benar.

Mengapa hatinya bisa mati? Karena hatinya gersang, tandus, kurang siraman rohani. Ruhnya kering, tidak pernah diisi dengan ilmu-Nya, tidak diisi dengan keimanan pada-Nya, tidak bergaul dengan orang-orang saleh sebagai salah satu obat hatinya.

Inilah pentingnya memilih orang saleh sebagai teman. Baik, mungkin kita tidak berhak menilai kesalehan orang, tapi setidaknya kita masih bisa melihat dengan jelas mana perilaku baik, mana yang buruk. Mana yang benar, mana yang salah. Maka pilihlah teman yang perilakunya baik dan benar. Semakin banyak kita berteman dengan yang baik, semakin terselamatkan hati kita dari kegersangan yang mematikan.

Berteman dengan orang saleh, memperkecil kemungkinan kita untuk berbuat dosa. Bayangkan ketika setiap obrolan kita mengandung hikmah, saat bersama tidak mengghibah yang lain, dalam bercanda masih beretika, pasti hati akan tercerahkan, tidak gelap. Setiap ada masalah, solusi mudah didapati. Mengapa? Karena teman yang saleh.

Ah, mencari teman saleh di zaman now begitu susah. Oh ya? Begitukah? Mengapa kita tidak belajar menjadi orang yang saleh saja? Jangan-jangan, bukan orang salehnya yang langka, tapi kita yang kurang tepat bersikap sehingga aura kesalehan orang itu tidak kita rasakan.

Maka dari itu, marilah kita mencari teman yang saleh, dibarengi dengan proses menyalehkan diri. Kalau tidak ingin dighibah saat kita tiada, jangan kita mengghibah teman saat ia tiada. Jaga ucapan, jaga tangan, jaga hati. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang sederhana, dan mulai dari sekarang, karena seribu langkah dimulai dari satu langkah. Yuk, menjadi orang saleh zaman now!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar