“Nduk, sepasang kekasih harus saling membimbing, atau paling tidak, ada salah satu di antara keduanya yang memiliki prinsip yang kuat. Harus ada yang mampu membimbing, mengarahkan agar keduanya tidak salah langkah. Ketika yang perempuan terlena, laki-laki yang mengarahkan. Ketika yang laki-laki terlena, perempuan yang mengingatkan. Sepasang kekasih tercipta untuk saling melengkapi, untuk itu jangan sampai keduanya terlena bersamaan. Sebab cinta merupakan salah satu senjata ampuh setan untuk melumpuhkan benteng keimanan.”
*Kutipan Buku Ya Habibal Qolbi, _Ni'matul Khoiriyyah_*
Selasa, 16 April 2019
Senin, 21 Januari 2019
Salam Single Luar Biasa
*Single, Why Not?*
Oleh: Nduk Ni'*
Undangan demi undangan berdatangan. Satu persatu teman telah bersatu dengan sang tambatan hati. Berpadu dalam akad, membaur dalam cinta kasih nan setia. Sempat terlintas sekejap dalam benak, "Tuhan, kapan giliranku?"
Aku tersenyum kemudian. Kenapa menanyakan hal itu? Pernikahan bukanlah sebuah antrean, bukan pula perlombaan, pun bukan berpacu dalam waktu. Pernikahan adalah sebuah komitmen besar di mana Allah menjadi saksinya. Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa, dua raga, dua hati, dan dua insan yang berbeda secara kepribadian maupun pemikirannya dengan kemauan mencari titik temu dalam setiap perbedaan, dan tekad untuk saling menerima, saling memberi, saling mengisi satu sama lain meski tak selalu seiya sekata.
Indah. Sungguh mulia Islam membingkai cinta dalam pernikahan. Sungguh indah Islam mengaturnya. Islam memuliakan dan menyucikan cinta kasih sesama insan melalui sebuah akad suci yang mengguncangkan arasy.
***
Pertanyaan senada seringkali terlontar dari berbagai sisi. Iya. "Kapan" adalah kata tanya yang cukup banyak digunakan dalam hidup ini. Tidak hanya kapan menikah, tentunya. Karena hidup ini berarti menjalani waktu. Dan di setiap waktu tertentu, ada sesuatu yang harus kita lalui. Wajar bila pertanyaan "kapan" itu terlontar.
Saat masih sekolah, misalnya. "Kapan ujian? Kapan lulus? Kapan wisuda?" Begitu selesai menempuh jenjang pendidikan, ditanya "Kapan mulai kerja? Kapan menikah? Kapan punya momongan?" dan sebagainya.
Pertanyaan itu seolah menandakan bahwa kita tengah berada di sebuah tangga, dan masih banyak anak tangga yang harus kita lalui untuk bisa sampai ke atas. Kita harus terus naik meski kadang terasa berat, lelah, dan menjenuhkan.
Lalu bagaimana menghadapi pertanyaan semacam itu? Tenang saja. Hidup kita, kita yang menjalani. Rizki yang ditakdirkan untuk kita, tetap menjadi milik kita. Jodoh kita, tidak akan tertukar. Dan ajal kita, tidak akan maju atau mundur karena sebuah pertanyaan. Artinya apa? *Setiap orang telah Allah berikan waktu dan kebutuhannya masing-masing di saat yang tepat menurut pandangan Allah, bukan pandangan manusia.*
Tak usah risau dengan berbagai pertanyaan. Toh rasa penasaran itu sudah menjadi bagian dari sifat manusia. Selalu ingin tahu. Itulah mengapa ada ramalan cuaca, ada prediksi UN, ada kisi-kisi ujian, karena manusia selalu ingin tahu. Hadapi saja pertanyaan "kapan" itu dengan tenang. Jawab dengan jawaban yang pasti bila memang sudah memiliki jawaban, dan cukup tanggapi dengan ramah bila belum memiliki jawaban yang pasti.
Single sendiri seangkatan, apa nggak jadi bahan bully teman-teman? Kadang iya, kadang tidak. Saya ada di posisi itu. Dari alumni kelas PBA B pascasarjana 2017, saya satu-satunya yang masih single. Semua teman baik laki-laki maupun perempuan, sudah berpasangan dan beberapa dari mereka sudah dikaruniai buah hati.
Tidak risau? Tidak. Kembali ke konsep yang tadi, bahwa setiap orang Allah berikan waktunya masing-masing. Dan Allah Maha Adil. Adilnya Allah bukan berarti memberikan sesuatu yang sama pada hamba-Nya, tapi memberikan sesuatu sesuai potensi hamba-Nya. Allah memberikan saya masa single sekian tahun, mungkin karena bagi Allah ada beberapa misi yang hanya bisa saya jalani sebelum menjadi seorang istri. Allah memberikan masa single yang singkat pada teman-teman, mungkin karena bagi Allah, mereka mampu menjalankan misinya ketika berpasangan.
Single, why not?
Sahabatku yang masih single, jangan pernah merasa terpuruk, jangan pernah merasa sendiri. Kita punya waktu yang mungkin tidak orang lain miliki. Kita punya kesempatan yang mungkin tidak Allah berikan pada yang lain. Manfaatkan waktu dan kesempatan itu selagi kita belum "alih status", karena akan ada banyak hal yang mungkin tidak bisa kita lakukan setelah status kita berubah, sebab tugas baru yang akan berdatangan.
Single, maksimalkan potensi. Yuk jadi insan mulia yang dicintai Allah Ta'ala. Berhentilah mengeluh dan meratap, perbanyaklah rasa syukur dan bahagia. Tuhan kita Maha Pengasih dan Penyayang. Dia Maha Romantis. Mintalah yang terbaik, pasti Dia berikan.
Salam Single Luar Biasa ☺
*(Ni'matul Khoiriyyah)
Oleh: Nduk Ni'*
Undangan demi undangan berdatangan. Satu persatu teman telah bersatu dengan sang tambatan hati. Berpadu dalam akad, membaur dalam cinta kasih nan setia. Sempat terlintas sekejap dalam benak, "Tuhan, kapan giliranku?"
Aku tersenyum kemudian. Kenapa menanyakan hal itu? Pernikahan bukanlah sebuah antrean, bukan pula perlombaan, pun bukan berpacu dalam waktu. Pernikahan adalah sebuah komitmen besar di mana Allah menjadi saksinya. Pernikahan adalah penyatuan dua jiwa, dua raga, dua hati, dan dua insan yang berbeda secara kepribadian maupun pemikirannya dengan kemauan mencari titik temu dalam setiap perbedaan, dan tekad untuk saling menerima, saling memberi, saling mengisi satu sama lain meski tak selalu seiya sekata.
Indah. Sungguh mulia Islam membingkai cinta dalam pernikahan. Sungguh indah Islam mengaturnya. Islam memuliakan dan menyucikan cinta kasih sesama insan melalui sebuah akad suci yang mengguncangkan arasy.
***
Pertanyaan senada seringkali terlontar dari berbagai sisi. Iya. "Kapan" adalah kata tanya yang cukup banyak digunakan dalam hidup ini. Tidak hanya kapan menikah, tentunya. Karena hidup ini berarti menjalani waktu. Dan di setiap waktu tertentu, ada sesuatu yang harus kita lalui. Wajar bila pertanyaan "kapan" itu terlontar.
Saat masih sekolah, misalnya. "Kapan ujian? Kapan lulus? Kapan wisuda?" Begitu selesai menempuh jenjang pendidikan, ditanya "Kapan mulai kerja? Kapan menikah? Kapan punya momongan?" dan sebagainya.
Pertanyaan itu seolah menandakan bahwa kita tengah berada di sebuah tangga, dan masih banyak anak tangga yang harus kita lalui untuk bisa sampai ke atas. Kita harus terus naik meski kadang terasa berat, lelah, dan menjenuhkan.
Lalu bagaimana menghadapi pertanyaan semacam itu? Tenang saja. Hidup kita, kita yang menjalani. Rizki yang ditakdirkan untuk kita, tetap menjadi milik kita. Jodoh kita, tidak akan tertukar. Dan ajal kita, tidak akan maju atau mundur karena sebuah pertanyaan. Artinya apa? *Setiap orang telah Allah berikan waktu dan kebutuhannya masing-masing di saat yang tepat menurut pandangan Allah, bukan pandangan manusia.*
Tak usah risau dengan berbagai pertanyaan. Toh rasa penasaran itu sudah menjadi bagian dari sifat manusia. Selalu ingin tahu. Itulah mengapa ada ramalan cuaca, ada prediksi UN, ada kisi-kisi ujian, karena manusia selalu ingin tahu. Hadapi saja pertanyaan "kapan" itu dengan tenang. Jawab dengan jawaban yang pasti bila memang sudah memiliki jawaban, dan cukup tanggapi dengan ramah bila belum memiliki jawaban yang pasti.
Single sendiri seangkatan, apa nggak jadi bahan bully teman-teman? Kadang iya, kadang tidak. Saya ada di posisi itu. Dari alumni kelas PBA B pascasarjana 2017, saya satu-satunya yang masih single. Semua teman baik laki-laki maupun perempuan, sudah berpasangan dan beberapa dari mereka sudah dikaruniai buah hati.
Tidak risau? Tidak. Kembali ke konsep yang tadi, bahwa setiap orang Allah berikan waktunya masing-masing. Dan Allah Maha Adil. Adilnya Allah bukan berarti memberikan sesuatu yang sama pada hamba-Nya, tapi memberikan sesuatu sesuai potensi hamba-Nya. Allah memberikan saya masa single sekian tahun, mungkin karena bagi Allah ada beberapa misi yang hanya bisa saya jalani sebelum menjadi seorang istri. Allah memberikan masa single yang singkat pada teman-teman, mungkin karena bagi Allah, mereka mampu menjalankan misinya ketika berpasangan.
Single, why not?
Sahabatku yang masih single, jangan pernah merasa terpuruk, jangan pernah merasa sendiri. Kita punya waktu yang mungkin tidak orang lain miliki. Kita punya kesempatan yang mungkin tidak Allah berikan pada yang lain. Manfaatkan waktu dan kesempatan itu selagi kita belum "alih status", karena akan ada banyak hal yang mungkin tidak bisa kita lakukan setelah status kita berubah, sebab tugas baru yang akan berdatangan.
Single, maksimalkan potensi. Yuk jadi insan mulia yang dicintai Allah Ta'ala. Berhentilah mengeluh dan meratap, perbanyaklah rasa syukur dan bahagia. Tuhan kita Maha Pengasih dan Penyayang. Dia Maha Romantis. Mintalah yang terbaik, pasti Dia berikan.
Salam Single Luar Biasa ☺
*(Ni'matul Khoiriyyah)
Saleh Zaman Now
*Saleh Zaman Now*
Oleh: Ni'matul Khoiriyyah, S.Pd.I., M.Pd.
Kehidupan merupakan serangkaian ujian. Paketnya A-B, suka duka, dan tangis tawa. Jurus menghadapinya pun ada dua. Syukur di saat nikmat datang, bersabar saat duka melanda.
Ujian hidup merupakan wujud keadilan Tuhan pada semua insan. Allah Maha Adil. Setiap orang pasti Allah berikan ujian berupa suka dan duka. Tak peduli zaman old maupun zaman now, semua pernah bahagia, pernah juga menderita.
Kok porsinya tidak sama? Porsi memang tidak sama, tapi disesuaikan. Yang jelas, semua sama-sama diuji dengan dua paket; suka-duka. Uang saku anak TK tidak mungkin disamakan dengan uang saku mahasiswa. Tidak, tapi disesuaikan. Misalnya, anak TK seribu, SD dua ribu, SMP lima ribu, dan seterusnya.
Ujian yang Allah berikan pada manusia, bisa saja tidak sama. Mengapa? Tingkat keimanannya berbeda. Allah menguji hamba-Nya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Ujian untuk Nabi tentu levelnya lebih tinggi dari ujian para Wali, apalagi wali kelas. Tapi yakinlah, tidaklah Allah menguji seseorang melebihi batas kemampuannya.
Lho, kok ada yang bunuh diri? Itu terjadi bukan karena tidak mampu menghadapi ujian Tuhan, tapi karena pikirannya terlanjur keruh, hatinya terlanjur mati, sehingga tak mampu melihat kebenaran dan bertindak dengan benar.
Mengapa hatinya bisa mati? Karena hatinya gersang, tandus, kurang siraman rohani. Ruhnya kering, tidak pernah diisi dengan ilmu-Nya, tidak diisi dengan keimanan pada-Nya, tidak bergaul dengan orang-orang saleh sebagai salah satu obat hatinya.
Inilah pentingnya memilih orang saleh sebagai teman. Baik, mungkin kita tidak berhak menilai kesalehan orang, tapi setidaknya kita masih bisa melihat dengan jelas mana perilaku baik, mana yang buruk. Mana yang benar, mana yang salah. Maka pilihlah teman yang perilakunya baik dan benar. Semakin banyak kita berteman dengan yang baik, semakin terselamatkan hati kita dari kegersangan yang mematikan.
Berteman dengan orang saleh, memperkecil kemungkinan kita untuk berbuat dosa. Bayangkan ketika setiap obrolan kita mengandung hikmah, saat bersama tidak mengghibah yang lain, dalam bercanda masih beretika, pasti hati akan tercerahkan, tidak gelap. Setiap ada masalah, solusi mudah didapati. Mengapa? Karena teman yang saleh.
Ah, mencari teman saleh di zaman now begitu susah. Oh ya? Begitukah? Mengapa kita tidak belajar menjadi orang yang saleh saja? Jangan-jangan, bukan orang salehnya yang langka, tapi kita yang kurang tepat bersikap sehingga aura kesalehan orang itu tidak kita rasakan.
Maka dari itu, marilah kita mencari teman yang saleh, dibarengi dengan proses menyalehkan diri. Kalau tidak ingin dighibah saat kita tiada, jangan kita mengghibah teman saat ia tiada. Jaga ucapan, jaga tangan, jaga hati. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang sederhana, dan mulai dari sekarang, karena seribu langkah dimulai dari satu langkah. Yuk, menjadi orang saleh zaman now!
Oleh: Ni'matul Khoiriyyah, S.Pd.I., M.Pd.
Kehidupan merupakan serangkaian ujian. Paketnya A-B, suka duka, dan tangis tawa. Jurus menghadapinya pun ada dua. Syukur di saat nikmat datang, bersabar saat duka melanda.
Ujian hidup merupakan wujud keadilan Tuhan pada semua insan. Allah Maha Adil. Setiap orang pasti Allah berikan ujian berupa suka dan duka. Tak peduli zaman old maupun zaman now, semua pernah bahagia, pernah juga menderita.
Kok porsinya tidak sama? Porsi memang tidak sama, tapi disesuaikan. Yang jelas, semua sama-sama diuji dengan dua paket; suka-duka. Uang saku anak TK tidak mungkin disamakan dengan uang saku mahasiswa. Tidak, tapi disesuaikan. Misalnya, anak TK seribu, SD dua ribu, SMP lima ribu, dan seterusnya.
Ujian yang Allah berikan pada manusia, bisa saja tidak sama. Mengapa? Tingkat keimanannya berbeda. Allah menguji hamba-Nya sesuai dengan kapasitas masing-masing. Ujian untuk Nabi tentu levelnya lebih tinggi dari ujian para Wali, apalagi wali kelas. Tapi yakinlah, tidaklah Allah menguji seseorang melebihi batas kemampuannya.
Lho, kok ada yang bunuh diri? Itu terjadi bukan karena tidak mampu menghadapi ujian Tuhan, tapi karena pikirannya terlanjur keruh, hatinya terlanjur mati, sehingga tak mampu melihat kebenaran dan bertindak dengan benar.
Mengapa hatinya bisa mati? Karena hatinya gersang, tandus, kurang siraman rohani. Ruhnya kering, tidak pernah diisi dengan ilmu-Nya, tidak diisi dengan keimanan pada-Nya, tidak bergaul dengan orang-orang saleh sebagai salah satu obat hatinya.
Inilah pentingnya memilih orang saleh sebagai teman. Baik, mungkin kita tidak berhak menilai kesalehan orang, tapi setidaknya kita masih bisa melihat dengan jelas mana perilaku baik, mana yang buruk. Mana yang benar, mana yang salah. Maka pilihlah teman yang perilakunya baik dan benar. Semakin banyak kita berteman dengan yang baik, semakin terselamatkan hati kita dari kegersangan yang mematikan.
Berteman dengan orang saleh, memperkecil kemungkinan kita untuk berbuat dosa. Bayangkan ketika setiap obrolan kita mengandung hikmah, saat bersama tidak mengghibah yang lain, dalam bercanda masih beretika, pasti hati akan tercerahkan, tidak gelap. Setiap ada masalah, solusi mudah didapati. Mengapa? Karena teman yang saleh.
Ah, mencari teman saleh di zaman now begitu susah. Oh ya? Begitukah? Mengapa kita tidak belajar menjadi orang yang saleh saja? Jangan-jangan, bukan orang salehnya yang langka, tapi kita yang kurang tepat bersikap sehingga aura kesalehan orang itu tidak kita rasakan.
Maka dari itu, marilah kita mencari teman yang saleh, dibarengi dengan proses menyalehkan diri. Kalau tidak ingin dighibah saat kita tiada, jangan kita mengghibah teman saat ia tiada. Jaga ucapan, jaga tangan, jaga hati. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang sederhana, dan mulai dari sekarang, karena seribu langkah dimulai dari satu langkah. Yuk, menjadi orang saleh zaman now!
Langganan:
Komentar (Atom)


